SAKHA – IBU

Posted in Saja-sajak_Ku. on Desember 2, 2008 by aditya

SAKHA – IBU

ibu

====I,LOVE,U MOM ==== 

sebening tetesan embun pagi
secercah sinarnya mentari
bila kutatap wajahmu ibu
ada kehangatan didalam hatiku

 

air wudhu selalu membasahimu
Ayat Suci selalu dikumandangkan
suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdo’a untuk putra putrinya

Oh ibuku engkaulah wanita
yang kucinta seumur hidupku

maafkan anakmu bila ada salah
pengorbananmu tanpa balas jasa

Ya Allah ampuni dosanya
sayangilah seperti menyayangiku
berilah dia kebahagiaan
dunia juga di akhirat

=========================

 I DO LOVE YOU MOM…

Pertemuan( 4 ).

Posted in Coretan_ku on Oktober 30, 2009 by aditya

FAWAJADA ABDAN MIN IBAADINAA AATAINAAHU ROMATAN MIN`INDINAA WA`ALLAMNAAHU MIN LADUNNA `ILMAN. Artinya : Maka (Musa dan Yusya) bertemu hambaKu diantara hamba-hambaku yang Aku beri ROHMAT khusus kepadanya dan yang Aku ajarkan kepada Ilmu dari Ilmu-Ilmu Alloh ( Ilmu Laduni).QS Al Kahfi 65. Setelah Nabi Musa AS bersama Yusya berjalan menyusuri tapak kaki mereka akhirnya sampai kembali ke tempat Batu Besar Shokhro yang didekatnya ada Sumber Air Kehidupan (Maul Hayat) dan didekat batu itu telah ada seorang hamba Alloh yang dijanjikan bertemu dengan Musa AS. Padahal pada kali yang pertama datang ditempat itu bahkan sampai tertidur lama ditempat itu tidak didapat hamba Alloh tersebut. Siapakah hamba Alloh yang telah mendapat Rohmat khusus dan Ilmu langsung dari sisi Alloh? Dia adalah Bun-ya putra Malkan bin Amir. Amir putra dari Sholikh putra Arfakhsyad putra dari Syam bin Nabi Nuh As. Bun-ya bin Malkan ini pada akhirnya dikenal oleh kita namanya Nabi Khidir, meskipun Al-Qur`an hanya menyebut secara umum ” HambaKU diatara hambaKu yang telah mendapat ROHMAT khusus dan diajari Ilmu Alloh langsung.

Tentang Ilmu Laduni / Ilmu Ghoib.

Dari kata “Ladunna Ilman” ini kemudian muncul kata-kata Ilmu Ladunni dan orang banyak mengatakan bahwa Ilmu Ladunni adalah Ilmu yang datang langsung dari Alloh tanpa melalui malaikat Jibril AS.
Dan semua orang bisa mendapatkan Ilmu Ladunni ini.
Adapun Ilmu yang tergolong kelompok Ilmu ini ada juga disebut Ilmu Warotsah dan Ilmu Firotsah. Ilmu-ilmu ini tidak dapat dipelajar.
Yang ada dalam kitab-kitab adalah bagaimana cara mencapai Ilmu Ladunni itu.Bukan ilmu ladunni itu sendiri. Ilmu Ladunni adalah ilmu pemberian dari Alloh langsung.

Mengapa Bun-ya bin Malkan dikenal dengan sebutan Khidlir?

Bun-ya disebut Khidlir karena pada awalnya setiap kali Bun-ya Sholat maka keadaan sekeliling nya mejadi terlihat bersinar hijau.

Hijau bahasa arab-nya AHDLORU, kemudian menjadi Khidlir.
Demikian Syaikh Muchammad Muchtar bin Abdul Mu’thi menerangkan dalam kitab Ma’ul Hayat-nya.

Setelah Nabi Musa AS bertemu dengan Bun-ya maka Nabi Musa menyampaikan salam, “Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokaatuh” dan dijawab oleh hamba Alloh yang sedang duduk itu dengan suara yang rendah,” Bi Adrikas Salam”.

Kemudian Nabi Musa berkata,” Saya ini Musa”.
Bun-ya kembali menegaskan,” Apakah kau Musa bani Isroil…?”
Musa jawab,” Ya, saya Musa bani Isroil…”
Bun-ya bertanya lagi,” Musa ?, Bukankah kamu itu orang yang di Bani Isroil orang sangat sibuk mengurus umat yang begitu banyak ? mengapa sampai disini ?”

Musa menjawab,”Wahai hamba Alloh, memang aku datang ke tempat kamu ini diperintah Tuhanku untuk menemui kamu. Karena sesungguhnya Tuhanku menyuruh aku belajar Ilmu kepada kamu”.QOOLA INNA ROBBI ARSALANI ILAIKA BIT TABI’IKA WA TA’ALLAMU ILAIKA.

Setelah Musa berkata begitu, ada seekor burung menyahut air dilautan, lalu air itu menetes dihadapan Nabi Musa dan Bun-ya. Dan Bun-ya pun berkata, ” Musa,…ilmu saya dan ilmu kamu serta ilmu seluruh manusia di bumi ini dari awal sampai akhir itu hanyalah seperti setetes air yang jatuh dihadapan kita dari burung tadi dibanding dengan air lautan yang terbentang di muka bumi ini.

Dan kamu Musa bukankah pernah berkata bahwa INNAKA A’LAMU AHLAL ARDLI – Aku ini lebih pandai dari semua manusia di bumi ?”

Mendengar perkataan yang tajam seperti diatas Nabi Musa AS terdiam saja, karena dalam hatinya meng-iya-kan bahwa dirinya pernah berkata begitu, yang dengan itulah membuat Alloh menyuruhnya belajar kepada Bun-ya di tempat ini.

Setelah Nabi Musa merasa yakin dengan orang yang ada dihadapannya adalah orang di maksud oleh Tuhannya maka Nabi Musa pun memohon keridloan kepada Bun-ya untuk berguru kepada nya dengan berkata :

QOOLA LAHUU MUSA, HAL AT TABI’UKA’ALAA AN TU’ALLIMANI MIMMA ‘ULIMTA RUSYDAAN(66) QOOLA INNAKA LAN TASTATI’A MA’IYA SHOBRON(67) WAKAIFA TASHBIRU’ALAA MALAM TUKHITH BIHI KHUBROON (68) QOOLA SATAJIDUNII INSYA ALLOOHU SHOOBIRON WALAA A’SHII LAKA AMRON(69).

Artinya :
Musa berkata,” Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada ku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah Alloh ajarkan pada kamu…”

Jawab hamba Alloh itu,” Sesungguhnya kamu Musa sekali-kali tidak sanggup sabar bersama ku.Dan bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.”

Musa pun menjawab,” Insya Alloh kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan tidak akan menentang kamu dalam sesuatu urusanpun”

Kemudian Musa bertanya, ” Kalau aku sanggup mengikuti kamu, apakah persyaratannya ?”

Dan dijawab oleh Bun-ya, “QOOLA FAINIT TABA’TANII FALAA TAS ALNII’ANSYAI-IN HATTA UHDITSA LAKA MINHU DZIKROON” (70).

“Jika kamu mengikuti ku maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Kawan perhatikanlah persyaratannya belajar Ilmu Khusus ini yang disampaikan oleh Alloh kepada kita melalui kutipan perkataan Nabi Khidlir.
Syaratnya adalah JANGANLAH BERTANYA ATAS SESUATU APAPUN YANG MENGUNDANG INGIN TAHU SAMPAI SANG GURU MEJELASKAN NYA SENDIRI KEPADA SI MURID” perhatikanlah ini. Jangan lupa ya.

Sekarang pertanyaan untuk kita adalah apakah Cerita ini hanya dongeng saja tentang adanya Ilmu khusus. Padahal dongeng itu ditulis dalam Qur’an Al Huda.

Tidakkah kita dibimbing dengan kisah ini untuk juga belajar Ilmu khusus?

Dan juga diberitahu secara gamblang bagaimana adabnya seorang murid belajar tentang Ilmu Khusus ini.

Adakah yang tergerak menjadi Musa-musa berikutnya mencari sosok Khidir?

Atau biarlah kisah ini berlalu saja tanpa ada sesuatu apapun yang kita lakukan dari pelajaran yang terkandung didalamnya. Biarlah jadi dongeng pengantar tidur sang Ibu bagi putra-putrinya. Mari kita pertanyakan pada diri kita yang terdalam.

Inilah perbedaannya, antara tatacara belajar Ilmu tata lahir dengan Ilmu Khusus tata bathin.

Ilmu Tata Lahir syaratnya harus bertanya bila ada sesuatu yang tidak diketahui.
FAS ALUU AHLADZ DZIKRI INKUNTUM LA TA’LAMUUN”
Artinya : Maka bertanyalah kamu kepada Ahli Ilmu, jika kamu tidak mengetahui” QS.An Nahl/43).

Bertanya adalah melaksanakan perintah Alloh. Kalau tidak bertanya berarti tidak memperhatikan perintah Alloh. Inilah cara memperoleh Ilmu Lahir.

Dan Ilmu Tata Bathin, Khusus syaratnya adalah sebagaimana diungkap oleh Nabi Khidir diatas. JANGANLAH KAMU BERTANYA SEBELUM AKU/GURU MENJELASKANNYA SENDIRI”

Tidak bertanya dalam belajar dan terus tekun mengikuti Sang Guru itulah berarti melaksanakan perintah Alloh.

Kalau bertanya tidak diminta bertanya maka ia melanggar perintah Alloh.
Persyaratan ini terlihat ENTENG sepintas lalu, tetapi kita akan tahu terasa begitu sulit bila dilaksanakan. Dan ini kita bisa pelajari dari perjalanannya Nabi Musa berguru pada Bun-ya alias Nabi Khidir.

KISAH ABU YAZID SANG RAJA PARA MISTIK

Posted in Coretan_ku on Oktober 19, 2009 by aditya

 

Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthami. Lahir di Bustham yang terletak di bagian timur Laut Persi. Meninggal di Bustham pada tahun 261 H/874 M. Beliau adalah salah seorang Sulton Aulia, yang merupakan salah satu Syech yang ada di silsilah dalam thoriqoh Sadziliyah, Thoriqoh Suhrowardiyah dan beberapa thoriqoh lain. Tetapi beliau sendiri menyebutkan di dalam kitab karangan tokoh di negri Irbil sbb:” …bahwa mulai Abu bakar Shiddiq sampai ke aku adalah golongan Shiddiqiah.”

MASA REMAJA

Kakek Abu Yazid al Busthami adalah seorang penganut agama Zoroaster. Ayahnya adalah salah satu di antara orang-orang terkemuka di Bustham. Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia masih berada dalam kandungan. “Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya” , ibunya sering berkata pada Abu Yazid, “engkau yang masih berada didalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”. Pernyataan itu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Setelah sampai waktunya, si ibu mengirimkan Abu Yazid ke sekolah. Abu Yazid mempelajari Al Qur-an. pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat Lukman yang berbunyi, “Berterimakasihlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu”. Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid. Abu Yazid meletakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya, “Ijinkanlah aku untuk pulang,. Ada yang hendak kukatakan pada ibuku”.

Si guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang kerumahnya. Ibunya menyambutnya dengan kata-kata,
“Thoifur, mengapa engkau sudah pulang? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa?”
“Tidak” jawab Abu Yazid “Pelajaranku sampai pada ayat dimana Alloh memerintahkan agar aku berbakti kepadaNya dan kepadamu. Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai ibu, mintalah diriku ini kepada Alloh sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Alloh semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata-mata”.

“Anakku” jawab ibunya “aku serahkan engkau kepada Alloh dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Alloh.

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, paling sepele di antara yang lain-lainnya, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segalasesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Alloh.

Kejadiannya adalah sebagai berikut:
Pada suatu malam, ibu meminta air kepadaku. Maka akupun mengambilnya, ternyata didalam tempayan kami tak ada air. Kulihat dalam kendi, tetapi kendi itupun kosong. Oleh karena itu, aku pergi kesungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur”.
“malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibu terjaga, ia meminum air yang kubawa itu kemudian memberkati diriku. Kemudian terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tangaku kaku.
“Mengapa engkau tetap memegang kendi itu?” ibuku bertanya.
“Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena”, jawabku.
Kemudian ibu berkata kepadaku, “Biarkan saja pintu itu setengah terbuka”
“Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali”.

(Wahai ingatkah kita di Qur’an Surat Al-Baqoroh 255) Sedang Alloh tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Selalu terjaga. Mengapakah kita masih sering terlena??

Setelah si ibu memasrahkan anaknya pada Alloh, Abu Yazid meninggalkan Bustham, merantau dari satu negri ke negri lain selama tiga puluh tahun, dan melakukan disiplin diri dengan terus menerus berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan. Di antara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama Shadiq. Ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya, tiba-tiba Shadiq berkata kepadanya,
“Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu”.
“Jendela? Jendela yang mana?”, tanya Abu Yazid.
“Telah sekian lama engkau belajar disini dan tidak pernah melihat jendela itu?”
“Tidak”
, jawab Abu Yazid, “apakah peduliku dengan jendela.Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.
“Jika demikian”
, kata si guru,” kembalilah ke Bustham. Pelajaranmu telah selesai”.

(Wahai, bagaimanakah saat kita sholat? Bukankah saat itu kita menghadap pada Sang Maha Kuasa?) Mengapakah masih peduli terhadap lainnya? Pikiran masih melantur kemana-mana, hati masih diskusi sendiri?” Celakalah engkau yang sholat, yaitu engkau yang di dalam sholatmu lalai” Fawailulil musholin aladzinahum ansholatihim sahun”. “Inna sholati li dzikri”

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat tertentu ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Mekkah (diartikan menghina kota Mekah), karena itu segera ia memutar langkahnya.
“Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Alloh”, Abu Yazid berkata mengenai guru tadi,”niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang dilakukannya”
Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah mesjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid itu.

(syari’at tanpa hakekat adalah kosong sedang hakekat tanpa syari’at adalah batal)

Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, sesaat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.
“Mengapa engkau selalu berlaku demikian?” tanya salah seseorang kepadanya. “Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid”, jawabnya.

(Lihatlah do’a Nabi Adam atau do’a Nabi Yunus a.s”Laa ilaha ila anta Subhanaka inni kuntum minadholimin”, Tidak ada tuhan melainkan engkau yaa Alloh, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang dholim. Atau lihat do’a Abunawas,’ Ya Alloh kalau engkau masukkan aku ke dalam sorga, rasanya tidaklah pantas aku berada di dalam sorga. Tetapi kalau aku kau masukkan ke dalam neraka, aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat ya Alloh, maka terimalah saja taubatku)

Perjalanan Abu Yazid menuju Ka’bah memakan waktu dua belas tahun penuh. Hal ini karena setiap kali ia bersua dengan seorang pengkhotbah yang memberikan pengajaran di dalam perjalanan itu, Abu Yazid segera membentangkan sajadahnya dan melakukan sholat sunnah dua roka’at. Mengenai hal ini Abu Yazid mengatakan: “Ka’bah bukanlah serambi istana raja, tetapi suatu tempat yang dapat dikunjungi orang setiap saat”.

Akhirnya sampailah ia ke Ka’bah tetapi ia tidak pergi ke Madinah pada tahun itu juga. “Tidaklah pantas perkunjung an ke Madinah hanya sebagai pelengkap saja”, Abu Yazid menjelaskan, “Saya akan mengenakan pakaian haji yang berbeda untuk mengunjungi Madinah”.

Tahun berikutnya sekali lagi ia menunaikan ibadah Haji. Ia mengenakan pakaian yang berbeda untuk setiap tahap perjalanannya sejak mulai menempuh padang pasir. Di sebuah kota dalam perjalanan tersebut, suatu rombongan besar telah menjadi muridnya dan ketika ia meninggalkan tanah suci, banyak orang yang mengikutinya

“Siapakah orang-orang ini?”, ia bertanya sambil melihat kebelakang.
“Mereka ingin berjalan bersamamu”, terdengar sebuah jawaban.
“Ya Alloh!”, Abu Yazid memohon, “Janganlah Engkau tutup penglihatan hamba-hambaMu karenaku”.

Untuk menghilangkan kecintaan mereka kepada dirinya dan agar dirinya tidak menjadi penghalang bagi mereka, maka setelah selesai melakukan sholat shubuh, Abu Yazid berseru kepada mereka, “Ana Alloh ,Laa ilaha illa ana, Fa’budni”. Sesungguhnya Aku adalah Alloh, Tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka Sembahlah Aku”

“Abu Yazid sudah gila!”, seru mereka kemudian meninggalkannya.

Abu Yazid meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tengkorak manusia yang bertuliskan, Tuli, bisu, buta …mereka tidak memahami. Sambil menangis Abu Yazid memungut tengkorak itu lalu menciuminya.”Tampaknya ini adalah kepala seorang sufi”, gumamnya,” yang menjadi tauhid di dalam Alloh … ia tidak lagi mempunyai telinga untuk mendengar suara abadi, tidak lagi mempunyai mata untuk memandang keindahan abadi, tidak lagi mempunyai lidah untuk memuji kebesaran Alloh, dan tak lagi mempunyai akal walaupun untuk merenung secuil pengetahuan Alloh yang sejati. Tulisan ini adalah mengenai dirinya”.

Suatu ketika Abu Yazid di dalam perjalanan, ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.
“Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”, seseorang berseru.
Setelah beberapa kali mendengar seruan ini, akhirnya Abu Yazid menjawab, “Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban”.
Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada di atas punggung onta tersebut. Barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut.
“Maha besar Alloh, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda.
“Jika kusembunyikan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku”, kata Abu Yazid kepadanya.
“Tetapi jika kujelaskan kenyataan-kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?”

(Menuruti orang itu memang nggak ada benernya, seperti kisah Luqman saat mendidik anaknya, diajaknya anaknya kepasar dengan membawa keledai. Awalnya Luqman yang naik keledai itu. Lewatlah di suatu desa. Orang-orang disitu berteriak mencemooh. “Lihatlah itu, seorang Bapak yang tega pada anaknya. Udara panas begini, anaknya disuruh jalan kaki sedang Bapaknya enak-enak di atas keledai.” . “Catat itu anakku “kata Luqman, kemudian ganti dia yang berjalan sedang anaknya dinaikkan keledai. Lewatlah mereka di satu desa lagi. Orang-orang di desa itu melihat mereka dengan mencemooh,”Lihat itu , jaman sudah edan, itulah contoh anak durhaka pada orang tua, anaknya enak-enak naik keledai, sedang Bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki diudara panas seperti ini”.”Catat itu anakku”, kata Luqman lagi. Kini, dua-duanya berjalan kaki. Jadi iring-iringan bertiga dengan keledainya berjalan kaki. Lewatlah mereka di satu desa. Orang-orang di desa itu mencemooh,”Lihat itu, orang-orang bodoh, mereka bercapek-capek jalan kaki sementara ada tunggangan keledai dibiarkan saja”.”Catat itu anakku”kata Luqman . Mereka mencari bambu panjang, dan sekarang keledainya mereka panggul berdua. Lewatlah mereka disatu desa lain. Orang-orang di situ melihat mereka dan mencemooh,”Lihat itu Bapak dan anak sama-sama gila, Keledai tidak apa-apa dipanggul. Enaklah jadi keledainya.” Lukman berkata pada anaknya” Catat itu waahai anakku. Kalau engkau menuruti omongan orang-orang, maka tidak akan pernah benar. Maka kuatkanlah keyakinanmu.)

MI’ROJ

Abu Yazid mengisah, “Dengan tatapan yang pasti aku memandang Alloh setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluq-Nya, menerangi diriku dengan Cahaya-Nya, membukakan keajaiban-keajaiban rahasiaNya dan menunjukkan kebesaranNya kepadaku.

Setelah menatap Alloh akupun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan CahayaNya, kebesaran diriku sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaranNya, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaanNya. Di dalam Alloh segalanya suci sedang didalam diriku segalanya kotor dan cemar.

Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Alloh. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaranNya. Apapun yang telah kulakukan, hanya karena kemahakuasaanNya. Apapun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Alloh, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepadaNya.
Aku bertanya, “Ya Alloh, apakah ini?”
Dia menjawab, “Semuanya adalah Aku, tidak ada sesuatupun juga kecuali Aku. Dan sesungguhnya tidak ada wujud selain wujudKu”
Kemudian Ia menjahit mataku sehingga aku tidak dapat melihat. Dia menyuruhku untuk merenungi akar permasalahan, yaitu diriNya sendiri. Dia meniadakan aku dari kehidupanNya sendiri, dan Ia memuliakan diriku.
Kepadaku dibukakanNya rahasia diriNya sendiri sedikitpun tidak tergoyahkan oleh karena adaku. Demikianlah Alloh, Kebenaran Yang Tunggal menambahkan realitas kedalam diriku. Melalui Alloh aku memandang Alloh, dan kulihat Alloh didalam realitasNya.

Di sana aku berdiam dan beristirahat untuk beberapa saat lamanya. kututup telinga dari derap perjuangan. Lidah yang meminta-minta kutelan ke dalam tenggorokan keputusasaan. Kucampakkan pengetahuan yang telah kutuntut dan kubungkamkan kata hati yang menggoda kepada perbuatan-perbuatan aniaya. Di sana aku berdiam dengan tenang. Dengan karunia Alloh aku membuang kemewahan-kemewahan dari jalan yang menuju prinsip-prinsip dasar.

Alloh menaruh belas kasih kepadaku. Ia memberkahiku dengan pengetahuan abadi dan menanam lidah kebajikanNya ke dalam tenggorokanku. Untuk diciptakanNya sebuah mata dari cahayaNya, semua makhluk kulihat melalui Dia. Dengan lidah kebajikan itu aku berkata-kata kepada Alloh, dengan pengetahuan Alloh kuperoleh sebuah pengetahuan, dan dengan cahaya Alloh aku menatap kepadaNya.

Alloh berkata kepadaku, “Wahai engkau yang tak memiliki sesuatupun jua namun telah memperoleh segalanya, yang tak memiliki perbekalan namun telah memiliki kekayaan”.

“YaAlloh”jawabku” Jangan biarkan diriku terperdaya oleh semua itu. Jangan biarkan aku puas dengan diriku sendiri tanpa mendambakan diri Mu. Adalah lebih baik jika Engkau menjadi milikku tanpa aku, daripada aku menjadi milikku sendiri tanpa Engkau.Lebih baik jika aku berkata-kata kepadaMu melalui Engkau, daripada aku berkata-kata kepada diriku sendiri tanpa Engkau”.

Alloh berkata, “Oleh karena itu perhatikanlah hukumKu dan janganlah engkau melanggar perintah serta laranganKu, agar Kami berterima kasih akan segala jerih payahmu”

“Aku telah membuktikan imanku kepadaMu dan aku benar-benar yakin bahwa sesungguhnya Engkau lebih pantas untuk berterimakasih kepada diriMu sendiri dari pada kepada hambaMu. Bahkan seandainya Engkau mengutuk diriku ini, Engkau bebas dari segala perbuatan aniaya”

“Dari siapakah engkau belajar?”, tanya Alloh.
“Ia Yang Bertanya lebih tahu dari ia yang ditanya”,jawabku,” karena Ia adalah Yang Dihasratkan dan Yang Menghasratkan, Yang Dijawab dan Yang Menjawab, Yang Dirasakan dan Yang Merasakan, Yang Ditanya dan Yang Bertanya”.

Setelah Dia menyaksikan kesucian hatiku yang terdalam, aku mendengar seruan puas dari Aloh. Dia mencap diriku dengan cap kepuasanNya. Dia menerangi diriku, menyelamatkan diriku dari kegelapan hawa nafsu dan kecemaran jasmani. Aku tahu bahwa melalui Dialah aku hidup dan karena kelimpahanNya-lah aku bisa menghamparkan permadani kebahagiaan di dalam hatiku.

“Mintalah kepadaKu segala sesuatu yang engkau kehendaki”, kata Alloh. “Engkaulah yang kuinginkan”,jawabku, “karena Engkau lebih dari kemurahan dan melalui Engkau telah kudapatkan kepuasan di dalam Engkau. Karena Engkau adalah milikku, telah kugulung catatan-catatan kelimpahan dan kemurahan. Janganlah Engkau jauhkan aku dari diriMu dan janganlah Engkau berikan kepadaku sesuatu yang lebih rendah daripada Engkau”.

Beberapa lama Dia tak menjawab. Kemudian sambil meletakkan mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku, berkatalah Dia,:
“Kebenaranlah yang engkau ucapkan dan realitaslah yang engkau cari, karena itu engkau menyaksikan dan mendengarkan kebenaran”. “Jika aku telah melihat”.,kataku pula, “melalui Engkau-lah aku melihat, dan jika aku telah mendengar, melalui Engkaulah aku mendengar. Setelah Engkau, barulah aku mendengar”.

Kemudian kuucapkan berbagai pujian kepadaNya. Karena itu Ia hadiahkan kepadaku sayap keagungan, sehingga aku dapat melayang-layang memandangi alam kebesaranNya dan hal-hal menakjubkan dari ciptaanNya. Karena mengetahui kelemahanku dan apa-apa yang kubutuhkan, maka Ia menguatkan diriku dengan perhiasan-perhiasanNya sendiri.

Ia menaruh mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan membuka pintu istana ketauhidan untukku. Setelah Ia melihat betapa sifat-sifatku tauhid ke dalam sifat-sifaNya, dihadiahkanNya kepadaku sebuah nama dari hadiratNya sendiri dan berkata-kata kepadaku dalam wujudNya sendiri. Maka terciptalah Tauhid Dzat dan punahlah perpisahan.

“Kepuasan Kami adalah kepuasanmu”, kataNya, “dan kepuasanmu adalah kepuasan Kami. Ucapan-ucapanmu tak mengandung kecemaran dan tak seorangpun akan menghukummu karena ke-aku-anmu”.

Kemudian Dia menyuruhku untuk merasakan hunjaman rasa cemburu dan setelah itu Ia menghidupkan aku kembali. Dari dalam api pengujian itu aku keluar dalam keadaan suci bersih. Kemudian Dia bertanya,: “Siapakah yang memiliki kerajaan ini”
“Engkau”, jawabku
“Siapakah yang memiliki kekuasaan?”
“Engkau”, jawabku
“Siapakah yang memiliki kehendak?”
“Engkau”, jawabku

Karena jawaban-jawabanku itu persis seperti yang didengarkan pada awal penciptaan, maka ditunjukkanNya kepadaku betapa jika bukan karena belas kasihNya, alam semesta tidak akan pernah tenang, dan jika bukan karena cintaNya segala sesuatu telah dibinasakan oleh keMahaPerkasaanNya. Dia memandangku dengan mata Yang Maha Melihat melalui medium Yang Maha memaksa, dan segala sesuatu mengenai diriku sirna tak terlihat.

Di dalam kemabukan itu setiap lembah kuterjuni. Kulumatkan tubuhku ke dalam setiap wadah gejolak api cemburu. Kupacu kuda pemburuan di dalam hutan belantara yang luas. Kutemukan bahwa tidak ada yang lebih baik dari pada kepapaan dan tidak ada yang lebih baik dari ketidak berdayaan (fana-red). Tiada pelita yang lebih terang dari pada keheningan dan tiada kata-kata yang lebih merdu dari pada kebisuan. Dan tiada pula gerak yang lebih sempurna dari pada diam. Aku menghuni istana keheningan, aku mengenakan pakaian ketabahan, sehingga segala masalah terlihat sampai keakar-akarnya. Dia melihat betapa jasmani dan rohaniku bersih dari kilasan hawa nafsu, kemudian dibukakanNya pintu kedamaian di dalam dadaku yang kelam dan diberikanNya kepadaku lidah keselamatan dan ketauhidan.

Kini telah kumiliki sebuah lidah rahmat nan abadi, sebuah hati yang memancarkan nur ilahi, dan mata yang ditempa oleh tanganNya sendiri. Karena Dia-lah aku berbicara dan dengan kekuasaanNya-lah aku memegang. Karena melalui Dia aku hidup, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Menghidupi, maka aku tidak akan pernah mati. Karena telah mencapai tingkat keluhuran ini, maka isyaratku adalah abadi, ucapanku berlaku untuk selama-lamanya, lidahku adalah lidah tauhid dan ruhku adalah ruh keselamatan, ruh Islam,. Aku tidak berbicara mengenai diriku sendiri sebagai seorang pemberi peringatan. Dia-lah yang menggerakkan lidahku sesuai dengan kehendakNya, sedang aku hanyalah seseorang yang menyampaikan. Sebenarnya yang berkata-kata ini adalah Dia, bukan aku.

Setelah memuliakan diriku Dia berkata, “Hamba-hambaKu ingin bertemu denganmu”. “Bukanlah keinginanku untuk menemui mereka”, jawabku. “Tetapi jika Engkau menghendakiku untuk menemui mereka, maka aku tidak akan menentang kehendakMu. Hiaslah diriku dengan ke-esaanMu, sehingga apabila hamba-hambaMu memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaanMu. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta semata-mata, bukan diriku ini”.

Keinginanku ini dikabulkanNya. DitaruhNya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku.

Setelah itu Dia berkata, “temuilah hamba-hambaKu itu”.
Akupun berjalan selangkah menjauhi hadiratNya. Tetapi pada langkah yang kedua aku jatuh terjerumus. Terdengarlah seruan,:

“Bawalah kembali kekasihKu kemari. Ia tidak dapat hidup tanpa Aku dan tidak ada satu jalanpun yang diketahuinya kecuali jalan yang menuju Aku”.

Setelah aku mencapai taraf tauhid Dzat-itulah saat pertama aku menatap Yang Esa-bertahun-tahun lamanya aku mengelana di dalam lembah yang berada dikaki bukit pemahaman. Akhirnya aku menjadi seekor burung dengan tubuh yang berasal dari ke-esa-an dan dengan sayap keabadian. Terus menerus aku melayang-layang di angkasa kemutlakan. Setelah terlepas dari segala sesuatu yang diciptakanNya, akupun berkata, “ Aku telah sampai kepada Sang Pencipta. Aku telah kembali kepadaNya”.

Kemudian kutengadahkan kepalaku dari lembah kemuliaan. Dahagaku kupuaskan seperti yang tak pernah terulang di sepanjang zaman. Kemudian selama tiga puluh ribu tahun aku terbang di dalam sifatNya yang luas, tigapuluh ribu tahun di dalam kemuliaan perbuatanNya, dan selama tiga puluh ribu tahun di dalam keesaan DzatNya. Setelah berakhir masa sembilan puluh ribu tahun, terlihat olehku Abu Yazid, dan segala yang terpandang olehku adalah aku sendiri.

Kemudian aku jelajahi empat ribu padang belantara. Ketika sampai diakhir penjelajahan itu terlihat olehku bahwa aku masih berada pada tahap awal kenabian. Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku katakan, “Tidak ada seorang manusiapun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi daripada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini”.

Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di tapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Alloh. Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli. Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya peduli?. Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya. Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Alloh, Nabi Muhammad SAW, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya kujejakkan kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa. Aku sedemikian gentar dan bingung sehinga aku menjadi sirna. Tetapi betapapun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Muhammad. Walaupun aku telah berjumpa dengan Alloh, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad.

Kemudian Abu Yazid berkata, “Ya Alloh, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepadaMu selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus keakuan ini, apakah yang harus kulakukan?”

Maka terdengarlah perintah, “Untuk melepas keakuanmu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad, si orang Arab. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya.

Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku kedalam tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang kulihat Muhammad. Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata,” aku adalah debu kaki Muhammad, maka aku akan mengikuti jejak Muhammad.

 

PERANG TANDING ANTARA ABU YAZID DAN YAHYA BIN MU’ADZ

Yahya bin Mu’adz-salah seorang tokoh sufi, aulia, waliyulloh, jaman itu, menulis surat kepada Abu Yazid,” Apakah katamu mengenai seseorang yang telah mereguk secawan arak dan menjadi mabuk tiada henti-hentinya?”
“Aku tidak tahu”, jawab Abu Yazid.”Yang kuketahui hanyalah bahwa di sini ada seseorang yang sehari semalam telah mereguk isi samudra luas yang tiada bertepi namun masih merasa haus dan dahaga”.

Yahya bin Mu’adz menyurati lagi,” Ada sebuah rahasia yang hendak kukatakan kepadamu tetapi tempat pertemuan kita adalah di dalam surga. Di sana, di bawah naungan pohon Tuba akan kukatakan rahasia itu kepadamu”.

Bersamaan surat itu dia kirimkan sepotong roti dengan pesan,”Syech harus memakan roti ini karena aku telah membuatnya dari air zam-zam”.

Di dalam jawabannya Abu Yazid berkata mengenai rahasia yang hendak disampaikan Yahya itu,” Mengenai tempat pertemuan yang engkau katakan, dengan hanya mengingatNya, pada saat ini juga aku dapat menikmati surga dan puhon Tuba. tetapi roti yang engkau kirimkan itu tidak dapat kunikmati. Engkau memang telah mengatakan air apa yang telah engkau pergunakan, tetapi engkau tidak mengatakan bibit gandum apa yang telah engkau taburkan”.

Maka Yahya bin Mu’adz ingin sekali mengunjungi Abu Yazid. Ia datang pada waktu sholat Isya’. Yahya berkisah sebagai berikut,:
” Aku tidak mau mengganggu Syech Abu Yazid. Tetapi aku pun tidak dapat bersabar hingga pagi. Maka pergilah aku ke suatu tempat di padang pasir di mana aku dapat menemuinya pada saat itu seperti dikatakan orang-orang kepadaku. Sesampainya ditempat itu terlihat olehku Abu Yazid sedang sholat Isya’. Kemudian ia berdiri di atas jari-jari kakinya sampai keesokan harinya. Aku tegak terpana menyaksikan hal ini. Sepanjang malam kudengar Abu Yazid berkata di dalam do’anya.,” Aku berlindung kepadamu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan ini”.

Setelah sadar, Yahya mengucapkan salam kepada Abu Yazid dan bertanya apakah yang telah dialaminya pada malam tadi. Abu Yazid menjawab,” lebih dari dua puluh kehormatan telah ditawarkan kepadaku. Tetapi tak satupun yang kuinginkan karena semuanya adalah kehormatan-kehormatan yang membutakan mata”.

“Guru, mengapakah engkau tidak meminta pengetahuan mistik, karena bukankah Dia Raja diantara raja yang pernah berkata,”Mintalah kepadaKu segala sesuatu yang engkau kehendaki?” Yahya bertanya.
“Diamlah!”, sela Abu Yazid,” Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenalNya, karena aku ingin tiada sesuatupun kecuali Dia yang mengenal diriNya. Mengenai pengetahuanNya, apakah peduliku. Sesungguhnya seperti itulah kehendakNya, Yahya. Hanya Dia, dan bukan siapa-siapa yang akan mengenal diriNya.

“Demi keagungan Alloh”, Yahya bermohon,”berikanlah kepadaku sebagian dari karunia-karunia yang telah ditawarkan kepadamu malam tadi”.

“Seandainya engkau memperoleh kemuliaan Adam, kesucian Jibril, kelapangan hati Ibrahim, kedambaan Musa kepada Alloh, kekudusan Isa, dan kecintaan Muhammad, niscaya engkau masih merasa belum puas. Engkau akan mengharapkan hal-hal lain yang melampaui segala sesuatu”, jawab Yazid.” Tetaplah merenung Yang Maha Tingi dan jangan rendahkan pandanganmu, karena apabila engkau merendahkan pandanganmu kepada sesuatu hal, maka hal itulah yang akan membutakan matamu”

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir kepinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu.

Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata,” Alloh Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhlukNya. Abu Yazid adalah “Raja diantara kaum mistik”, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu?”

Abu Yazid menjawab,” Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku,’Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik?’. Begitulah yang sampai dalam pikiranku dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya”.

Suatu ketika Abu yazid melakukan perjalanan menuju Ka’bah di Makkah, tetapi beberapa saat kemudian ia pun kembali lagi. “Di waktu yang sudah-sudah engkau tidak pernah membatalkan niatmu. Mengapa sekarang engkau berbuat demikian?”, tanya seseorang kepaa Abu Yazid.

“baru saja aku palingkan wajahku ke jalan”, jawab Abu Yazid,”terlihat olehku seorang hitam yang menghadang dengan pedang terhunus dan berkata,”Jika engkau kembali, selamat dan sejahtera-lah engkau. Jika tidak, akan kutebas kepalamu. Engkau telah meninggalkan Alloh di Bustham untuk pergi kerumahNya.

Hatim Tuli-salah seorang waliyulloh masa itu-, berkata kepada murid-muridnya,” Barang siapa di antara kamu yang tidak memohon ampunan bagi penduduk neraka di hari berbangkit nanti, ia bukan muridku”.

Perkataan Hatim ini disampaikan orang kepada Abu Yazid. kemudian Abu yazid menambahkan,” Barang siapa yang berdiri di tebing neraka dan menangkap setiap orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian mengantarnya ke surga lalu kembali ke neraka sebagai pengganti mereka, ia adalah muridku”.

ABU YAZID DAN SEORANG MURIDNYA

Ada seorang pertapa di antara tokoh-tokoh suci terkenal di Bustham. Ia mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid. Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau.

Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid,”pada hari ini genaplah tigapuluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan do’a sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu”.

“Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikitpun dari ceramah-ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati”.
“Mengapa demikian?”,tanya si murid.
“Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri”, jawab Abu Yazid.
“Apakah yang harus kulakukan?”,tanya si murid pula.
“Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya”, jawab Abu Yazid.
“Akan kuterima!. Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan”.
“Baiklah!”, jawab Abu Yazid.”Sekarang ini juga, cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan ini dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang dilehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan pada mereka,”Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku”. Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat dimana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan”.
“Maha besar Alloh!Tiada Tuhan kecuali Alloh”, cetus simurid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.
“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim”,kata Abu Yazid.”Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Alloh”.
“Mengapa begitu?”,tanya si murid.
“Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, dan bukan untuk memuliakan Alloh. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Alloh?”.
“Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain”, si murid berkeberatan.
“Hanya itu yang dapat kusarankan”,Abu Yazid menegaskan.
“Aku tak sanggup melaksanakannya”, si murid mengulangi kata-katanya.
“Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku”,kata Abu Yazid.
(Duhai, sadarlah aku bahwa kesombongan dalam diriku begitu tebal, betapa pentingnya aku, betapa mulianya aku, betapa orang lain berada lebih rendah dari aku…..lihat nggantengku, lihat kekayaanku, lihat kepandaianku,…lihat kekuatanku….lihat kekuasaanku……! Besi mesti dipanasi untuk dijadikan pedang, besi mesti ditempa untuk dibuat menjadi tajam. Batu kotor mesti digosok supaya jadi berlian. “Gosoklah berlian imanmu dengan Laa illaha ilalloh”. ‘Jadidu Imanakum bi Laa illaha ilalloh’ )

“Engkau dapat berjalan di atas air”, orang-orang berkata kepada Abu Yazid. “Sepotong kayupun dapat melakukan hal itu”, jawab Abu Yazid.

“Engkau dapat terbang di angkasa”. “Seekor burung pun dapat melakukan itu”

“Engkau dapat pergi ke Ka’bah dalam satu malam”. ” Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam”.

“Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid. Abu Yazid menjawab,”Seorang manusia sejati tidak akan menautkan hatinya kepada siapapun dan apapun kecuali kepada Alloh”.

Abu Yazid ditanya orang,”Bagaimanakah engkau mencapai tingkat kesalehan yang seperti ini?”
. “Pada suatu malam ketika aku masih kecil,”, jawab Abu Yazid,”aku keluar dari kota Bustham. Bulan bersinar terang dan bumi tertidur tenang. Tiba-tiba kulihat suatu kehadiran. Di sisinya ada delapan belas ribu dunia yang tampaknya sebagai sebuah debu belaka. hatiku bergetar kencang lalu aku hanyut dilanda gelombang ekstase yang dahsyat. Aku berseru Ya Alloh, sebuah istana yang sedemikian besarnya tapi sedemikian kosongnya. Hasil karya yang sedemikian agung tapi begitu sepi? ” Lalu terdengar olehku sebuah jawaban dari langit.” Istana ini kosong bukan karena tak seorangpun memasukinya tetapi Kami tidak memperkenankan setiap orang untuk memasukinya. Tak seorang manusia yang tak mencuci muka-pun yang pantas menghuni istana ini”.

“Maka aku lalu bertekat untuk mendo’akan semua manusia. Kemudian terpikirlah olehku bahwa yang berhak untuk menjadi penengah manusia adalah Muhammad SAW. Oleh karena itu aku hanya memperhatikan tingkah lakuku sendiri. Kemudian terdengarlah suara yang menyeruku.,” Karena engkau berjaga-jaga untuk selalu bertingkah laku baik, maka Aku muliakan namamu sampai hari Berbangkit nanti dan ummat manusia akan menyebutmu RAJA PARA MISTIK”.

Abu Yazid menyatakan,” Sewaktu pertama kali memasuki Rumah Suci (Ka’bah), yang terlihat olehku hanya Rumah Suci itu. Ketika untuk kedua kalinya memasuki Rumah Suci itu, yang terlihat olehku adalah Pemilik Rumah Suci. Tetapi ketika untuk ketiga kalinya memasuki Rumah Suci, baik si Pemilik maupun Rumah Suci itu sendiri tidak terlihat olehku”.

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Alloh, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama 20 tahun, ia akan bertanya,” Anakku, siapakah namamu?” Suatu ketika si murid berkata pada Abu Yazid,”Guru, apakah engkau memperolok-olokkanku. Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi, setiap hari engkau menanyakan namaku”.

“Anakku”,Abu Yazid menjawab,”aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-Nya telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku”

Abu Yazid mengisahkan:

Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah Syaikh dan tokoh suci zaman ini. Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Alloh mengutus seseorang untuk membukakan diriku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang ke-empat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu. Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya. Lelaki bermata satu itu memandangiku.

“Sejauh ini engkau memanggilku”, katanya,” hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?”

“Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu,”Dari manakah engkau datang?”

“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh”, kemudian ia menambahkan,”berhati-hatilah Abu Yazid, Jagalah hatimu!”

Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu.

MASA AKHIR

Diriwayatkan bahwa Abu Yazid telah tujuh puluh kali diterima Alloh ke hadhiratNya. Setiap kali kembali dari perjumpaan dengan Alloh itu, Abu Yazid mengenakan sebuah ikat pinggang yang lantas diputuskannya pula.

Menjelang akhir hayatnya Abu Yazid memasuki tempat sholat dan mengenakan sebuah ikat pinggang. Mantel dan topinya yang terbuat dari bulu domba itu dikenakannya secara terbalik. Kemudian ia berkata kepada Alloh:

” Ya Alloh, aku tidak membanggakan disiplin diri yang telah kulaksanakan seumur hidupku, aku tidak membanggakan sholat yang telah kulakukan sepanjang malam. Aku tidak menyombongkan puasa yang telah kulakukan selama hidupku. Aku tidak menonjolkan telah berapa kali aku menamatkan Al Qur’an. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman spiritual khususku yang telah kualami, do’a- do’a yang telah kupanjatkan dan betapa akrab hubungan antara Engkau dan aku. Engkaupun mengetahui bahwa aku tidak menonjolkan segala sesuatu yang telah kulakukan itu.

Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk membanggakan diri atau mengandalkannya. Semua ini kukatakan kepadaMu karena aku malu atas segala perbuatanku itu. Engkau telah melimpahkan rahmatMu sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah itu tidak pernah terjadi. Aku adalah seorang Torkoman yang berusaha tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih di dalam kejahilan.

Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru,’Tangri-Tangri’ Baru sekarang inilah aku dapat memutus ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam lingkungan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidahku untuk mengucapkan syahadat. Segala sesuatu yang Engkau perbuat adalah tanpa sebab. Engkau tidak menerima ummat manusia karena kepatuhan mereka dan Engkau tidak akan menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepadaMu limpahkanlah ampunanMu. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhiMu.

Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Alloh pada tahun 261 H /874 M.

MENGHADAPI PERSOALAN HIDUP.

Posted in Kajian_arsip. on Desember 29, 2008 by aditya

1. Yang menghadapi seluruh persoalan hidup dan kehidupan manusia di dunia ini ialah hati manusia.

2. Hati manusia di dalam menghadapi persoalan hidup dan kehidupan itu mesti akan bertemu dua macam cobaan hidup dan ujian hidup

3. Adapun ujian hidup yang dialami oleh manusia itu dua macam :

  • Ujian-ujian yang menggembirakan hati
  • Ujian-ujian yang menyedihkan hati

4. Ada sebagian manusia diwaktu diuji hatinya di dalam kegembiraan kuat, tetapi menghadapi ujian yang menyedihkan tidak kuat akhirnya jatuh kemanusiaannya

5. Tetapi ada sebagian manusia yang hatinya waktu diuji dengan ujian yang memprihatinkan kuat, tetapisetelah diuji dengan ujian yang menggembirakan mereka tidak kuat akhirnya jatuh martabat kemanusiaannya

6. Menurut petunjuk Rosululloh shollallohu ‘Alaihi wassallam, agar kuat menghadapi ujian yang menggembirakan hari haruslah dihadapi dengan sifat  SYUKUR

7. Dan supaya kuat menghadapi ujian yang menyedihkan hati haruslah dihadapi dengan sifat SHOBAR

8. Manunggalnya sifat syukur dengan sifat shobar di dalam hati itulah dinamakan  YAQIN

9. Hanya dengan yaqin itulah martabat manusia akan lestari mulya tidak akan jatuh, baik diwaktu gembira maupun diwaktu susah, dimana saja, kapan saja, dalam keadaan apa saja

10. Untuk melatih diri agar tumbuh sifat syukur di dalam hati, haruslah ingat-ingat akan banyaknya nikmat-nikmat Alloh yang tak terbilang banyaknya yang telah dianugerahkan kepada kita ummat manusia ini

11. Dan untuk melatih diri agar tumbuh sifat shobar dalam hati :

  1. Hendaklah membiasakan puasa terutama puasa Romadlon
  2. Haruslah banyak ingat-ingat akan kisah-kisah penderitaannya para Rosul-Rosul dan orang-orang yang terpilih oleh Alloh Ta’ala
  3. Dan banyak-banyaklah mengambil pelajaran prosesnya alam tumbuh-tumbuhan, dan alam benda-benda, dan alam hayawan yang sampai kepada tujuan hidupnya

( Dari Mau’idhotul hasanah Bapak Kyai di buku Lailatul Qodar tahun 1423 H / 2002 M).

Selamat Tahun Baru ( 1430 HIJRIYYAH ).

Posted in Shiddiqiyyah on Desember 28, 2008 by aditya

 

20baru2

 

 

selamat-tahun-baru1

 

ucapan-tahun-baru1

Radio Online ( Shiddiqiyyah ).

Posted in Shiddiqiyyah on Desember 27, 2008 by aditya

 

Atas Berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa

http://shiddiqiyyah.com/cgi-bin/plist.m3u?user=radio&type=m3u&ext=file.m3u

 

Untuk keterangan lebih lanjut silahkan klik  http://aditya60.wordpress/radio-online-shiddiqiyyah/ atau klik kanan RADIO ONLINE SHIDDIQIYYAH    semoga bermanfaat.

terimakasih.

wassalam.

Bio Data.

Posted in Serambi_ku. on Desember 20, 2008 by aditya

 

aditya ardiansyah                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Nama      :  Aditya ardiansyah ( mujtahidin billah ).

Alamat   : Indonesia ( Lamongan ).

Hobi        :   Bayak deh semua suka.

scholl      : Ponpes Majma,all Bahrain ( shiddiqiyyah ).

                           www.shiddiqiyyah.com

                        www.alkautsar-dhibra.com

                               www.maaqo.com

  Maill      :             aditya60@ymail.com    

Info lebih lanjut klik   http://karuniamu.wordpress.com tentangku.      

“Dan jika manusia tetap pada suatu thoriqoh,pasti mereka  akan mendapatkan air yang menyegarkan ( air  hidup,menghidupkan )”.Qs: Al jin.16.

ASAL MULA ALAM SEMESTA.

Posted in Artikel. on Desember 19, 2008 by aditya

Atas Berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa

Assalamualaikum Wr Wb

 

Digambarkan dalam Al-Qur’an pada ayat berikut:

“Dia Pencipta langit dan bumi….”
(Al-An’am, 6:101).

          Keterangan yang diberikan Al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan ‘Big Bang’, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.

 

          Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al-Qur’an 1.400 tahun lalu.

          Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big

ASAL MULA ALAM SEMESTA.

Atas Berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa

Assalamualaikum Wr Wb

 

Digambarkan dalam Al-Qur’an pada ayat berikut:

“Dia Pencipta langit dan bumi….”
(Al-An’am, 6:101).

          Keterangan yang diberikan Al-Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan ‘Big Bang’, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.

 

          Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al-Qur’an 1.400 tahun lalu.

          Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

 

Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

Sebelum melanjutkan artikel ini, cobalah renungkan(jangan serius-serius) pertanyyan ini.
Dengan bahan dan alat apakah Tuhan menciptakan Alam semesta?

Jika kita jawab saja seperti kata Harun Yahya, dari ledakan besar(Big Bang), terus ledakan itu dari apa? begitu seterusnya. agar lebih menarik marilah kita ikuti kutipan artikel ini:

Mata para fisikawan teori sekarang sedang mengarah ke Swiss. Bukan, ini bukan soal sepakbola. Sebuah instrumen raksasa berjuluk Large Hadron Collider (LHC), yang terletak di dekat kota Jenewa, di perbatasan Swiss-Prancis, dalam waktu dekat ini akan dinyalakan, dan sebuah eksperimen bersejarah akan segera digelar.

lhc21Dalam Struktur berbentuk cincin dengan keliling 27 km yang terbenam 50 hingga 175 meter dibawah tanah, dua pancaran partikel subatomik ditembakkan ke arah yang berlawanan, dan saling bertumbukan satu sama lain dalam kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Partikel-partikel itu akan memancarkan bunga api kecil dari energi primordial, menciptakan kembali keadaan saat alam semesta baru berusia kurang dari sepersetriliun detik. Tujuannya: menelisik keberadaan “partikel Dewa”, Boson Higgs yang hingga kini masih misterius.

Sebagai satu-satunya partikel dalam model standar fisika partikel yang belum pernah teramati, pemahaman terhadap boson Higgs akan menjelaskan bagaimana elemen partikel tak bermassa mampu membentuk massa pada materi. Massa partikel elementer, beserta perbedaan antara elektromagnetisme (yang disebabkan oleh foton) dan daya lemah (yang dibawa oleh boson W dan Z) adalah hal kritikal dalam banyak aspek dalam dunia mikroskopik (dan juga makroskopik), dan dengan demikian memiliki peran yang signifikan dalam dunia sekeliling kita.

lhc1Elektromagnetisme menjelaskan bagaimana partikel berinteraksi dengan foton. Dengan cara yang sama pula, gaya lemah menjelaskan bagaimana dua entitas, boson W dan Z, berinteraksi dengan elektron, quark, neutrino, dkk. Satu perbedaan penting diantara kedua interaksi tersebut: foton tidak memiliki massa sementara W dan Z memiliki massa sangat besar, bahkan merupakan partikel paling massif yang diketahui sejauh ini.

Kecenderungan awal adalah mengasumsikan bahwa W dan Z memang eksis dan berinteraksi dengan partikel elementer lainnya. Namun dengan alasan matematis, massa W dan Z yang demikian besar akan mengakibatkan inkonsistensi pada model standar. Jalan keluarnya: harus ada setidaknya satu partikel lain yang belum dikenal. Boson Higgs yang dipostulatkan oleh fisikawan Inggris, Peter Higgs pada 1964 (bersama-sama dengan François Englert and Robert Brout) sangat mungkin merupakan jawabannya.

Teori yang paling sederhana memprediksi hanya satu boson, namun teori lain menyatakan mungkin ada beberapa. Faktanya, pencarian terhadap partikel (atau partikel-partikel) ini merupakan salah satu riset paling menarik di jagat fisika partikel. Riset ini dapat membawa kepada penemuan yang betul-betul baru dalam disiplin ini. Sebagian fisikawan berspekulasi bahwa riset ini akan membuahkan interaksi kuat yang sepenuhnya baru, bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menyingkap keberadaan simetri fisika fundamental, “supersimetri”.

Dalam pencarian boson Higgs, proton dan anti-proton berenergi sangat-sangat tinggi dilontarkan dan saling bertumbukan dalam kecepatan tinggi pula. Apabila energi dari tumbukan itu cukup besar, maka partikel itu akan terpecah menjadi potongan yang lebih fundamental, yang salah satunya mungkin adalah boson Higgs. Partikel ini akan eksis hanya selama sepersekian detik sebelum akhirnya meluruh menjadi partikel lain. Para periset harus mengais-ngais bukti keberadaan boson Higgs dari partikel-partikel yang dihasilkan.

Sedianya pencarian ini akan dilakukan pada akselerator SSC (Superconducting Supercolider) yang rencananya akan dibangun di Waxahachie, texas, AS, dengan biaya selangit: setara 20 triliun rupah. Proyek raksasa ini akhirnya dibatalkan oleh Senat AS pada 1993 setelah melalui perdebatan panjang selama bertahun-tahun. Harapan satu-satunya kini digantungkan pada tim Eropa dengan LHC-nya. Energi tumbukan yang dihasilkan pada LHC hanya sekitar 1/4 energi SSC, namun dengan biaya pembangunan hanya 1/5 biaya SSC, LHC merupakan pilihan yang lebih ekonomis.

Kalau kita mengikuti artikel tersebut, kalau nggak tambah bingung, ya dipahami sekedarnya saja.
Kita masih saja mengira bahwa Alam ini diciptakan dari sesuatu, bukankan sesuatu yang bahkan manusia untuk mencari saja tetap saja sulit itu juga ciptaan? terus balik lagi pertanyaannya, boson higgs yang jika memang benar itu, dari mana asalnya penumbuknya? dst…

Cobalah kita berfikir yang sederhana saja, tapi jangan terus cukup kita bilang KUN FAYAKUN  itu namanya nggak berfikir, tidak disini bahasannya. cobalah kita lihat disekitar kita, adakah yang diciptakan Tuhan dengan tiba-tiba? atau trennya KUN FAYAKUN tadi? bukannkan segala yang ada di awali dengan yang ada pula? terus awalnya apa?

Kalau ingin mendiskusikan, diharap tidak mendoktrin otak kita dengan yang biasa APA KATA KITAB. karena itu bahasan pengajian, jadi diskusikan yang ilmiah saja, selamat berdiskusi.

aditya

 

 

 

 

 

Wassalam.

 

Rinduku.

Posted in Saja-sajak_Ku. on Desember 18, 2008 by aditya

Aditya ardiansyah.               Ku bersenandung dalam rindu,ku merintih dalam perih,ku berharap dalam cemas,ku melangkah dalam gunda,ku memuja dalam do,a.

saat fajar menjelang ku menjelma dalam nyanyian burung krikit menyapaku penuh rindu,ketika mentari mulai terik ku rsakan hadir mu dalam sang bayu membelaiku dalam bisik syahdu.sore mulai datang ku dengar suaramu memangilku dalam teriakan anak-anak yang bermain penuh ceria,malam mulai menyapa menyelimuti sang bumu hijau ku lihat kelipan matamu dalam pesona sang bintang ku rasa senyumu dalam cahaya rembulan kau tidurkan aku dalam buaian  lembut angin malam.

ku sayangimu itu lah sebabnya aku tak erhenti mendo,akan ke selamatanmu da berharap kita kan kembali bersama.

Dewi.

Posted in Saja-sajak_Ku. on Desember 17, 2008 by aditya

images1Dewi malam mengepakan sayapnya selimuti bumi nan hijau pengasuh si kuda terbang yang selau setia temani perjalanan sang dewi melalui malam demi malam hantarkan cinta kasih menyusup ke dalam mimpi,tebarkan senyum setiap gadis yang terbuai mimpi membuat sang jejaka selalu tegar di sepanjang malam karnalah menangunng rindukan cintanya,sang dewi terus saja tersenyum mengitari malam malam indahnya.

TASHOWWUF DAN UNSUR YUNANI.

Posted in Artikel. on Desember 17, 2008 by aditya

 

Kebudayaan Yunani seperti filsafat telah masuk ke dunia Islam mulai pada akhir Daulah Amamiyah dan puncaknya pada masa Daulah ‘Abbasyiah ketika berlangsung zaman penerjemah filsafat Yunani. Dengan kegiatan penerjemahan itu maka banyak buku buku filsafat, disamping buku buku lainnya yang dipelajari umat Islam. Ini seperti merupakan proses pengenalan umat Islam pada metode berpikir filosofis. Metode metode berpikir filsafat ini juga telah mempengaruhi pola pikir sebagian orang Islam yg ingin berhubungan denga Alloh.
Pada persoalan ini tasawuf yg terkena pengaruh Yunani adalah yg kemudian diklasifikasikan sebagai tasawuf yg bercorak filsafat. Hal ini dapat dilihat dari pikiran al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Sina terutama dalam uraian tentang filsafat jiwa. Dongkian juga pada uraian uraian tasawuf dari Abu Yazid, al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi, dan sebagainya. Dalam tasawuf ajaran ajaran mereka banyak dimasuki paham pemikiran Yunani. Misalnya perkataan: “Apabila sudah baik seseorang hanya menepukukan sedikit malam. Dan apabila sudah baik, hati manusia hanya memerlukan sedikit hikmat”.
Ahli ahli sejarah seperti Syaufan menerangkan bahwa banyak bagian dari berita “Seribu Malam” berasal dari Yunani. Orang Yahudi meskipun menyerahkan dirinya sebagai orang Islam, tetapi tidak mau meninggalkan agamanya, bahkan berusaha menarik orang orang Islam kepada agamanya. Memang sulit juga untuk dipungkiri bahwa dalam peradaban Islam, terutama pada masa dua Dinasti di atas, yakni ketika tengah berlangsungnya era penerjemahan, telah masuk paham paham yg bersumber filsafat Yunani, misalnya filsafat mistik Pythagoras. Kita mendapati uraian Pythagoras yg mengatakan bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai org asing. Jasmani merupakan penjara bagi roh. Kesenangan roh yg sebenarnya ialah alam samawi, dan manusia harus membersihkannya dengan meninggalkan hidup materi yaitu zuhud, untuk selanjutnya berkontemplasi. Ajaran Pythagoras agar meninggalkan dunia dan pergi berkontemplasi inilah menurut pendapat sebagian org yg mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam.
Selain itu ada pendapat lain yg mengatakan bahwa masuknya filsafat ke dunia Islam melalui mazhab paripatetic dan Neo Platonisme. Mazhab yg pertama (paripatetic) kelihatannya lebih banyak masuk ke dalam bentuk skolastisisme ortodoks (kalam). Sedangkan untuk Neo Platonisme lebih masuk kepada dunia tasawuf. Filsafat emanasinya Plotinus yg mengatakan bahwa wujud ini memancarkan dari Dzat Tuhan Yang Maha Esa menjadi salah satu dasar argumentasi para orientalis dalam menyikapi asal mula tasawuf di dunia Islam.
Dalam emanasinya Plotinus menjelaskan bahwa Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor dan untuk dapat kembali ke tempat asalnya, roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Pensucian roh dilakukan dengan cara meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan sedekat mungkin kalau bisa bersatu dengan Tuhan. Ketika ajaran Neo Platonisme berhasil menyusup ke dalam tasawuf maka yg pertama terjadi adalah penolakan terhadap “keberbedaan” benda benda (ghoiriyat) dari Alloh. Di bawah pengaruh ajaran Plotinus, gejala gejala tidak dianggap sebagai berbeda dari Alloh tetapi dianggap identik enganNya. Akibat lain dari Neo Platonisme, adalah bahwa benda yg bukan merupakan satu satunya objek mulai dianggap sebagai satu satunya objek dan objek yg sebenar benarnya justru diabaikan.
Pencapaian yg lebih tinggi yg sebenarnya hanya merupakan akibat sampingan dan mereka memunculkan sendiri mulai dianggap sebagai satu satunya objek. Apabila diperhatikan ternyata cara kerja filsafat adalah bahwa segala sesuatu diukur menurut akal pikiran. Namun dengan kemunculan filsafat alira Neo Platinisme agaknya filsafat lebih menyentuh hal yg lebih metafisik atau supranatural terutama dalam persoalan pengenalan diri manusia di hadapan Tuhan. Ungkapan Neo Platoisme, misalnya “Kenalilah dirimu dgn dirimu”, kemudian diambil oleh para sufi menjadi ungkapan “Siapa yg mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya”.
Hal ini bisa jadi mengarah kepada munculnya teori Hulul, Wahdat al Syuhud, dan Wahdat al Wujud. Tidak syak lagi bahwa cara berpikir kelompok Neo Shopi (sufi berketuhanan dan filosof) seperti al Farabu, Ibnu ‘Arabi, dan al Hallaj banyak dipengaruhi oleh filsafat.